Katekismus Bab VI: Pengakuan Iman Kristen


BAGIAN I
PENGAKUAN IMAN

SEKSI II
PENGAKUAN IMAN KRISTEN

CREDO
Pengakuan iman apostolik Pengakuan iman Nisea-Konstantinopel


Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa,
Pencipta langit dan bumi  pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.
Dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita, Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal.

Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang
dari terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan
dijadikan, sehakikat dengan Bapa segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita.
yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria;  Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria:

yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita. Waktu Pontius
disalibkan, wafat dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian, Pilatus Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan.
pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati; yang naik ke surga,  Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci.
duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan  Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia,
datang mengadili orang hidup dan mati. mengadili orang yang hidup dan yang mati; Kerajaan-Nya takkan  berakhir.

Aku percaya akan Roh Kudus,  Kami percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putera. Yang serta Bapa dan Putera
disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa, Kami percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Kami mengakui satu Pembaptisan akan penghapusan dosa.
kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin. Kami menantikan kebangkitan orang mati. Dan hidup di akhirat.
Amin.

SIMBOLA IMAN
185 Yang berkata: "Aku percaya", berkata: "Saya setuju dengan apa, yang kita percaya". Persekutuan dalam iman membutuhkan bahasa iman yang sama, yang mengikat semua dan yang mempersatukan dalam pengakuan iman yang sama.

186 Sejak awal, Gereja apostolik sudah mengungkapkan dan meneruskan imannya dalam rumus-rumus yang singkat dan baku untuk semua. Tetapi dengan segera Gereja juga hendak memasukkan inti sari dari imannya dalam ringkasan yang organis dan tersusun, yang dimaksudkan terutama untuk calon Pembaptisan:

"Bukan kesewenang-wenangan manusiawi telah menyusun ringkasan iman ini, melainkan ajaran-ajaran terpenting dari seluruh Kitab Suci dihimpun di dalamnya, menjadi ajaran iman yang satu-satunya. Bagaikan biji sesawi membawa banyak cabang dalam sebuah biji kecil, demikianlah ringkasan iman ini mencakup dalam kata-kata yang sedikit semua pengetahuan dari Perjanjian Lama dan Baru" (Sirilus d. Yerusalem, catech. ill. 5,12).

187 Ringkasan-ringkasan iman ini dinamakan "pengakuan iman" karena mereka meringkaskan iman yang diakui umat Kristen. Orang menamakannya juga "Credo", karena dalam bahasa Latin mereka biasanya mulai dengan kata "Credo" [Aku percaya]. Nama lain ialah "Simbola iman".

188 Kata Yunani "sumbolon" menggambarkan separuh dari sebuah benda yang utuh yang dipecahkan menjadi dua (umpamanya segel), yang dipakai sebagai tanda pengenal. Kedua bagian itu dihubungkan untuk memeriksa identitas pemakai. Jadi, "simbolon iman" adalah tanda pengenal dan tanda persekutuan untuk orang beriman. "Simbolon" lalu berarti juga himpunan, ringkasan, ikhtisar. Dalam "simbolon iman" diringkaskan kebenaran-kebenaran iman yang pokok. Karena itu, ia dipakai sebagai pegangan pertama, sebagai teks pokok katekese.

189 Pengakuan iman untuk pertama kalinya diucapkan pada kesempatan Pembaptisan. Pada tempat pertama ia merupakan pengakuan Pembaptisan. Karena Pembaptisan dilaksanakan dalam "nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Mat 28:19), maka kebenaran-kebenaran iman yang diakui waktu Pembaptisan disusun sesuai dengan hubungannya dengan tiga Pribadi Tritunggal Mahakudus.

190 Dengan demikian, simbolon mempunyai tiga bagian pokok: "Dalam bagian pertama dibicarakan tentang Pribadi pertama dalam Allah dan tentang karya penciptaan yang mengagumkan; dalam bagian kedua tentang Pribadi kedua dan tentang rahasia penebusan manusia; dalam bagian ketiga tentang Pribadi ketiga, pangkal dan sumber pengudusan kita" (Catech. R. 1,1,4). Itulah "ketiga bagian pokok dari meterai [Pembaptisan] kita" (Ireneus, dem. 100).

191 Tiga bagian ini berbeda satu dengan yang lain, tetapi saling berhubungan. "Kita menamakan mereka sesuai dengan perumpamaan yang sering dipakai oleh para bapa articuli [anggota]. Sebagaimana orang membedakan anggota-anggota sebuah badan menurut bagian-bagiannya, demikian juga kita menamakan dalam pengakuan iman kita ini setiap bagian khusus, yang disampaikan kepada kita untuk diimani, sebagai articulus" (Catech. R. 1,1,4). Sesuai dengan tradisi lama yang sudah disaksikan oleh santo Ambrosius, orang biasanya menghitung dua belas artikel Credo supaya jumlah para Rasul itu melambangkan seluruh iman apostolik.

192 Sesuai dengan kebutuhan aneka ragam zaman timbullah dalam peredaran zaman banyak pengakuan atau simbola iman. Simbola beberapa Gereja apostolik tua, "Quicumque" yang disebut simbolon Atanasian, pengakuan iman dari konsili dan sinode tertentu atau Paus tertentu, umpamanya "Fides Damasi" dan "Credo Umat Allah" (SFP) dari Paus Paulus VI 1968.

193 Tidak satu pun pengakuan dari berbagai zaman dalam kehidupan Gereja dapat dipandang sebagai kedaluwarsa atau tidak bernilai. Semuanya mencakup iman segala zaman secara singkat dan membantu kita sekarang untuk menangkapnya dan mengertinya dengan lebih dalam.

Dua pengakuan mendapat tempat yang sangat khusus dalam kehidupan Gereja:

194 Syahadat apostolik, yang dinamakan demikian karena dengan alasan kuat ia dipandang sebagai rangkuman setia dari iman para Rasul. Itulah pengakuan Pembaptisan lama dalam Gereja Roma. Karena itu ia mempunyai otoritas tinggi: "Itulah simbolum yang dijaga Gereja Roma, di mana Petrus, yang pertama di antara para Rasul, mempunyai takhtanya dan ke mana ia membawa ajaran iman para Rasul itu" (Ambrosius, symb. 7).

195 Juga apa yang dinamakan Syahadat Nisea-Konstantinopel mempunyai otoritas besar karena ia dihasilkan oleh kedua konsili ekumenis yang pertama (325 dan 381) dan sampai hari ini masih merupakan milik bersama semua Gereja besar di Timur dan di Barat.

196 Penjelasan kita mengenai iman akan mengikuti pengakuan iman apostolik, yang boleh dikatakan merupakan "Katekismus Romawi tertua". Namun penjelasan itu akan dilengkapi dengan selalu menunjuk kepada pengakuan iman Nisea-Konstantinopel yang sering lebih rinci dan lebih dalam.

197 Marilah menjadikan pengakuan iman yang menghidupkan itu, milik kita seperti pada hari Pembaptisan kita, ketika seluruh kehidupan kita dipercayakan kepada "pengajaran benar" (Rm 6:17). Mendoakan syahadat dengan iman berarti bertemu dengan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus; tetapi juga berarti dihubungkan dengan Gereja universal yang meneruskan iman kepada kita dan yang di dalam persekutuannya kita beriman.
"Simbolum ini adalah meterai rohani, renungan hati kita dan penjaga yang selalu hadir; dengan sesungguhnya ia adalah pusaka jiwa kita" (Ambrosius, sym.1).

BAB I
AKU PERCAYA AKAN ALLAH BAPA
198 Pengakuan iman kita mulai dengan Allah, karma Allah adalah "Yang Pertama" dan "Yang Terakhir" (Yes 44:6), Awal dan Akhir segala sesuatu. Syahadat mulai dengan Allah Bapa, karena Bapa adalah Pribadi pertama Tritunggal Mahakudus; ia mulai dengan penciptaan langit dan bumi karena penciptaan adalah awal dan dasar segala karya Allah.

ARTIKEL 1 AKU PERCAYA AKAN ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI

Pasal 1 “Aku Percaya Akan Allah”

199 "Aku percaya akan Allah", pernyataan pertama dari pengakuan iman ini juga yang paling mendasar. Seluruh pengakuan berbicara tentang Allah, dan kalaupun ia berbicara juga tentang manusia dan tentang dunia, maka itu dilakukan dalam hubungan dengan Allah. Artikel-artikel Kredo semuanya bergantung dari yang pertama, sama seperti perintah-perintah dekalog selanjutnya mengembangkan perintah yang pertama. Artikel-artikel berikutnya membuat kita mengenal Allah lebih baik, seperti Ia mewahyukan Diri kepada manusia, langkah demi langkah. "Sepantasnya umat beriman lebih dahulu mengakui bahwa mereka percaya akan Allah" (Catech. R.1,2,6).

I. "Kami Percaya akan Satu Allah"

200 Kredo Nisea-Konstantinopel mulai dengan kata-kata ini. Pengakuan akan keesaan Allah, yang berakar dalam wahyu ilahi Perjanjian Lama, tidak dapat dipisahkan dari pengakuan tentang adanya Allah dan dengan demikian sangat mendasar. Allah adalah Esa; ada hanya satu Allah. "Kepercayaan Kristen memegang teguh dan mengakui ... bahwa Allah adalah Esa menurut kodrat, substansi, dan hakikat" (Catech.R. 1,2,2).

201 Tuhan sebagai Yang Esa mewahyukan Dia kepada Israel, bangsa yang dipilih-Nya: "Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul 6:4-5). Dengan perantaraan para nabi, Allah mengajak Israel dan semua bangsa supaya berpaling kepada-Nya, Allah yang satu-satunya: "Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi. Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain ... semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan" (Yes 45:22-24)1.

202 Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah "adalah satu-satunya Tuhan" dan bahwa orang harus mencintai-Nya dengan sepenuh hatinya, dengan segenap jiwanya, dengan seluruh akalnya, dan dengan segala kekuatannya. Pada waktu yang sama Ia juga menyatakan bahwa Ia sendiri adalah "Tuhan". Memang pengakuan bahwa "Yesus itu Tuhan" adalah kekhasan iman Kristen. Namun ia tidak bertentangan dengan iman akan Allah yang Esa. Juga iman akan Roh Kudus "yang adalah Tuhan dan membuat hidup", tidak membawa perpecahan dalam Allah yang Esa: .

"Kami percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa ada hanya satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, mahakuasa, dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus: meskipun tiga Pribadi, tetap satu hakikat, substansi atau kodrat yang sama sekali tak tersusun [dari bagian-bagian]" (Konsili Lateran IV: DS 800).

II. Allah Mewahyukan Nama-Nya
203 Allah mewahyukan Diri kepada bangsa-Nya Israel dengan memberitahukan nama-Nya. Nama mengungkapkan hakikat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya. Allah mempunyai nama. Ia bukanlah kekuatan tanpa nama. Menyatakan nama berarti memperkenalkan diri kepada orang lain; berarti seakan-akan menyerahkan diri sendiri, membuka diri, supaya dapat dikenal lebih dalam dan dapat dipanggil secara pribadi.

204 Allah menyatakan Diri kepada bangsa-Nya langkah demi langkah dan dengan berbagai nama. Namun wahyu pokok untuk Perjanjian Lama dan Baru adalah wahyu nama Allah kepada Musa pada penampakan dalam semak duri bernyala sebelum keluar dari Mesir dan sebelum perjanjian Sinai.

Allah yang Hidup
205 Allah menyapa Musa dari tengah semak duri yang menyala tanpa terbakar. Ia berkata kepada Musa: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub" (Kel 3:6). Allah adalah Allah para bapa, yang memanggil bapa-bapa bangsa dan membimbing mereka dalam perjalanan mereka. Ia adalah Allah yang setia dan turut merasakan, yang ingat akan para bapa dan akan perjanjian-Nya. Ia datang untuk membebaskan keturunannya dari perbudakan. Ia adalah Allah yang dapat dan mau melakukan ini tanpa bergantung pada waktu dan tempat. Ia melaksanakan rencana-Nya melalui kemahakuasaan-Nya.

"Aku Adalah AKU ADA"
"Musa berkata kepada Allah: `Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang namanya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: `AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: `Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu... itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun" (Kel 3:13-15).

206 Dengan mewahyukan nama-Nya yang penuh rahasia, YHWH: "Aku adalah Dia yang ada" atau "Aku adalah AKU ADA", Allah menyatakan siapa Dia dan dengan nama apa orang harus menyapa-Nya. Nama Allah ini penuh rahasia, sebagaimana Allah sendiri juga penuh rahasia. Ia adalah nama yang diwahyukan dan pada waktu yang sama boleh dikatakan sebuah penolakan untuk menyatakan suatu nama. Tetapi justru karena itu ia menegaskan dengan cara yang paling baik, Siapa sebenarnya Allah: Yang mengatasi segala sesuatu, yang tidak dapat kita mengerti atau katakan, Yang Mulia tak terbatas. Ia adalah "Allah yang tersembunyi" (Yes 45:15), nama-Nya tidak terkatakan dan bersama itu pula Ia adalah Allah yang menghadiahkan kehadiran-Nya kepada manusia.

207 Bersama dengan nama-Nya Allah mewahyukan sekaligus kesetiaan-Nya yang ada sejak dulu dan akan tinggal selama-lamanya: Ia setia, "Aku ini Allah nenek moyangmu" (Kel 3:6) dan akan tetap setia, "Aku ada beserta kamu" (Kel 3:12). Allah, yang menamakan Diri "AKU ADA", mewahyukan Diri sebagai Allah yang selalu hadir, selalu menyertai bangsa-Nya untuk meluputkannya.

208 Mengingat kehadiran Allah yang penuh rahasia dan pesona, manusia menyadari kehinaannya. Di depan semak berduri yang menyala, Musa membuka sandalnya dan menutup mukanya sebab takut memandang Allah. Di depan kemuliaan Allah yang tiga kali kudus, Yesaya berseru: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir" (Yes 6:5). Melihat tanda-tanda ilahi yang Yesus lakukan, Petrus berseru: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa" (Luk 5:8). Tetapi karena Allah itu kudus, Ia dapat mengampuni manusia yang mengakui diri sebagai orang berdosa di hadapan-Nya: "Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu... sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu" (Hos 11:9). Demikian juga Rasul Yohanes berkata: "Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu" (1 Yoh 3:19-20).

209 Karena hormat kepada kekudusan Allah, bangsa Israel tidak mengucapkan nama Allah. Waktu membaca Kitab Suci, nama yang diwahyukan diganti dengan gelar martabat ilahi "Tuhan" ("Adonai", dalam bahasa Yunani "Kurios"). Dengan gelar ini ke-Allah-an Yesus diakui secara meriah: "Yesus adalah Tuhan".

"Tuhan yang Rahim dan Berbelaskasihan"
210 Setelah Israel berdosa dan berbalik dari Allah, dengan menyembah anak lembu emas, Allah mendengarkan permohonan Musa dan bersedia berjalan bersama bangsa-Nya yang tidak setia itu. Dengan demikian Ia menunjukkan cinta-Nya. Ketika Musa meminta supaya boleh melihat kemuliaan-Nya, Allah menjawabnya: "Aku akan melewatkan segala kegemilangan-Ku di depanmu dan menyerukan nama YHWH di depanmu" (Kel 33:18-19). Dan Tuhan berjalan lewat di depan Musa dan berseru: "Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" (Kel 34:6). Lalu Musa mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang mengampuni.

211 Nama Allah "AKU ADA" atau "IA ADA" menyatakan kesetiaan Allah. Kendati ketidaksetiaan yang terdapat dalam dosa manusia, dan kendati siksa atasnya, Allah "mengasihi beribu-ribu keturunan" (Kel 34:7). Allah mewahyukan bahwa Ia "murah hati" (Ef 2:4) dan Ia berlangkah begitu jauh sampai Ia menyerahkan Putera-Nya sendiri. Yesus mengurbankan kehidupan-Nya supaya membebaskan kita dari dosa, dan dengan demikian mewahyukan bahwa Ia sendiri menyandang nama ilahi itu: "Apa bila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, kamu akan tahu, bahwa Akulah Dia" (Yoh 8:28).

Hanya Allah yang Ada
212 Dalam jangka waktu berabad-abad iman Israel dapat mengembangkan kekayaan, yang terungkap dalam wahyu nama Allah, dan dapat menyelaminya. Allah itu Esa; di samping Dia tidak ada Allah lain. Ia agung melebihi dunia dan sejarah. Ia menciptakan langit dan bumi: "Semuanya akan musnah, tetapi Engkau tetap sama, hidup-Mu tak akan berakhir" (Mzm 102:27-28). Padanya "tidak ada perubahan dan tidak ada kegelapan" (Yak 1:17). Dialah "YANG ADA" dari dahulu dan untuk selama-lamanya dan dengan demikian Ia tetap setia kepada Diri sendiri dan kepada perjanjian-Nya.

213 Dengan demikian wahyu mengenai nama yang tak terucapkan "AKU adalah AKU ADA" mengandung kebenaran bahwa hanya Allah yang ADA. Terjemahan Septuaginta dan tradisi Gereja memahami nama Allah dalam arti: Allah adalah kepenuhan keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal dan akhir. Sementara segala makhluk ciptaan menerima segala-galanya, keberadaan dan milik mereka dari Dia, hanya Ia sendiri merupakan Keberadaan-Nya dan memilikinya dari diri-Nya sendiri.

III. Allah, " Ia yang Ada", Adalah Kebenaran dan Cinta
214 Allah, "la yang ada", telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai "yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan" (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. "Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi" (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena "Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali" (1 Yoh 1:5); Ia adalah "cinta", seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).

Allah Adalah Kebenaran
215 "Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya" (Mzm 119:160). "Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati" (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.

216 Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.

217 Allah juga benar, apabila Ia mewahyukan Diri: Ajaran yang datang dari Tuhan, adalah "ajaran yang benar" (Mal 2:6). Ia mengutus Putera-Nya ke dunia, supaya Ia "memberikan kesaksian tentang kebenaran" (Yoh 18:37). "Anak Allah telah dating dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal [Allah] Yang Benar" (1 Yoh 5:20).

Allah Adalah Cinta
218 Dalam peredaran sejarah, Israel dapat mengerti bahwa Allah hanya mempunyai satu alasan untuk mewahyukan Diri kepadanya dan memilihnya dari antara segala bangsa, supaya menjadi milik-Nya: cinta-Nya yang berbelaskasihan. Berkat nabi-nabinya Israel mengerti bahwa Allah karena cinta-Nya selalu saja meluputkannya dan mengampuni ketidaksetiaannya dan dosa-dosanya.

219 Cinta Tuhan kepada Israel dibandingkan dengan cinta seorang bapa kepada puteranya. Cinta itu lebih besar daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Allah mencintai bangsa-Nya lebih dari seorang pengantin pria mencintai pengantin wanita. Cinta ini malahan akan mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk. Ia akan berlangkah sekian jauh, sampai Ia menyerahkan juga yang paling dicintai-Nya: "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal" (Yoh 3:16).

220 Cinta Allah itu "abadi" (Yes 54:8): "Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu" (Yes 54:10). "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" (Yer 31: 3).

221 Santo Yohanes berlangkah lebih jauh lagi dan berkata: "Allah adalah kasih" (1 733 Yoh 4:8-16): Cinta adalah kodrat Allah. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal dan Roh cinta pada kepenuhan waktu, Allah mewahyukan rahasia-Nya yang paling dalam; Ia sendiri adalah pertukaran cinta abadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan Ia telah menentukan supaya kita mengambil bagian dalam pertukaran itu.

IV Arti Iman akan Allah yang Esa
222 Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita:

223 Kita mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah. "Sesungguhnya, Allah itu agung, tidak tercapai oleh pengetahuan kita" (Ayb 36:26). Karena itu, "kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali" (Jeanne dArc).

224 Kita hidup dengan ucapan terima kasih: Kalau Allah itu Esa, maka segala sesuatu yang ada pada kita dan yang kita miliki, berasal dari Dia: "Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Kor 4:7). "Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?" (Mzm 116:12).

225 Kita mengetahui kesatuan dan martabat yang benar semua manusia: Mereka 4 semua diciptakan menurut citra Allah, sesuai dengan-Nya.

226 Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia.

"Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang-halangi aku untuk datang kepada-Mu.

Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu.

Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu".

(Nikolaus dari Flue, Doa).

227 Kita percaya kepada Allah dalam setiap keadaan, juga dalam hal-hal yang mengganggu. Doa Santa Teresia dari Yesus mengungkapkan ini dengan sangat mengesankan:

Semoga tidak ada hal yang membingungkan engkau, Semoga tidak ada hal yang menakutkan engkau. 

Segala sesuatu akan berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran memperoleh segala sesuatu.

Siapa yang memiliki Allah tidak kekurangan sesuatu pun.

Allah sendiri mencukupi. (poes. 30)


TEKS-TEKS SINGKAT

228 "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa " (UI 6.:4, menurut Mrk 12:29). "Apa yang mau dipandang sebagai yang terbesar harus esa sifatnya dan tidak boleh mempunyai tandingannya ... Sebab kalau Allah tidak esa, maka Ia bukan Allah" (Tertulianus, Marc, 1,3).

229 Iman akan Allah mendorong kita, supaya berpaling hanya kepada Dia sebagai awal mula kita yang pertama dan sebagai tujuan akhir kita dan tidak boleh ada sesuatu pun yang mendahului-Nya atau mengganti-Nya.

230 Walaupun Allah mewahyukan Diri, namun Ia tetap tinggal rahasia yang tidak terucapkan: "Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah " (Agustinus, serm. 52, 6,16).

231 Allah yang kita imani telah mewahyukan Diri sebagai YANG ADA: la menyatakan Diri sebagai "yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan " (Kel 34:6). Kebenaran dan cinta adalah kodrat-Nya.

Katekismus Bab VI: Pengakuan Iman Kristen Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Good Dreamer
Powered by Blogger.